Majukan Dirimu Majulah Negerimu
Karya
: Ria Mawaddah
Bismillahhirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum
wr wb
Hamdan
wasyukronlillah Amma ba’du
Salam
sejahtera untuk kita semua
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa. Yang telah memberikan kita
nikmat kesehatan dan kesempatan, sehingga kita dapat hadir di tempat ini.
Shalawat
serta salam tak lupa kita layangkan, kepada junjungan Nabi besar kita yakni
Nabi Muhammad Saw. Yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita menuju
alam yang terang menderang. Yakni Addinul
Islam.
Hadirin
yang berbahagia
Hari
ini, kita akan membahas sebuah tema besar dan wajib diketahui. Yaitu Membangun
generasi berwawasan Nusantara menuju embrio bangsa yang berpaham pada Pancasila.
Pancasila
adalah philosofische grondslag (dasar
filosofis), Pancasila adalah weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia
Merdeka. Pancasila adalah jantung bangsa, pancasila adalah milik kita. Bangsa
Indonesia.
Pancasila bagaikan jalan. Diaspal
ribuan kali, disakiti dan dihaluskan dengan dinamika sejarah. Sejak zaman
demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi
multipartai di era reformasi saat ini. Pancasila harus melewati alur dialektika
peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia
yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah
peradaban.
Seiring dengan berkembangnya zaman,
emberio generasi bangsa telah berbeda paham dan pandangan terhadap Pancasila.
Gaya hidup yang serba barat, membentuk paham Komunisme, Konsumerisme,
Liberalisme, Hedonisme dan seterusnya. Generasi bangsa sepertinya telah menetas
secara prematur, sehingga lupa akan kelahiran hakiki sebagai generasi bangsa
yang seharusnya berwawan Nusantara.
Hadirin yang berbahagia
Sebuah
pertanyaan besar muncul dari benak kita. Bagaimana membangun
generasi berwawasan Nusantara agar menjadi embrio bangsa yang berpaham pada
pancasila? Jawaban tersebut mengacu pada pancasila, jadi jawabannyapun adalah
PANCASILA. Cara ini bisa kita sebut sebagai 9 PANCASILA Generasi Bangsa.
“P” adalah Prestasi. Untuk
menjadikan generasi muda berwawasan Nusantara, kita harus menunjukan bahwa
dengan Pancasila kita bisa mencetak milyaran prestasi yang bisa dinikmati.
Bukan sekedar janji, namun realisasi. Ciptakan teknologi canggih, temukan daya
diri, bersaing dengan luar negeri, sehingga pancasila bisa dihargai.
“A” adalah Aktif. Pemerintah dan
jajarannya harus aktif mensosialisasikan pentingnya berpaham pada pancasila.
Aktif dalam menyebarluaskan kesaktian pancasila dan aktif dalam memajukan
bangsa.
“N” adalah Nasionalisme. Sikap cinta
terhadap tanah air, menghargai Pahlawan, berjuang menegakkan kemerdekaan.
Itulah Nasionalisme yang harus ditanamkan sejak masih anak-anak sampai tua
nanti. Karena Nasionalisme bukanlah kata, namun sebuah bukti cinta terhadap Bangsa.
“C” adalah Continue. Pergerakan
pancasila tidak boleh tersendat. Pergerakannya harus Continue atau terus mengalir
seperti air. Dengan begitu, pancasila akan tertanam kuat dalam jiwa. Tak akan
lengser oleh jabatan sementara, tak akan punah oleh peradaban, dan selalu ada
dalam ingatan.
“A” adalah Agresif. Kata ini tidak
selalu bermakna negatif. Jika kita artikan secara positif, maka kata ini berubah
menjadi “Agresif Normatif”. Tidak semua anak muda bisa dibelai halus dengan
kata, namun harus dibina dengan keagresipan yang sesuai Undang-undang bangsa.
“S” adalah Sosial. Artinya, kita
harus menunjukan pada generasi kita. Bahwa dengan pancasila, kita bisa membuka
mata dunia. Sosial dalam bergaul, sosial dalam menyampaikan, dan memiliki jiwa sosial
terhadap perkembangan bangsa kedepan.
“I” adalah Implementasi. Amalkan
pancasila, kobarkan dalam jiwa, dan tindas KKN yang merajalela. Tak ada gunanya
memilki teori, buku bertumpuk di lemari, lambang pancasila di sana-sini kalau
tak punya implementasi.
“L” adalah Luhur. Luhur dalam
berkata, luhur dalam menyampaikan, luhur dalam keseharian, dan luhur dalam
mengamalkan pancasila dan Undang-Undang Dasar.
“A” adalah Agamis. Sebuah fakta yang
harus kita ketahuai, bahwa dengan menjalankan pancasila pertama. Yakni,
Ketuhanan yang Maha Esa. Maka kita telah menjalankan empat butir pancasila
lainnya. Karena dengan percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Kita akan
berperikemanusiaan, beradab, bersatu dalam tali toleransi, bermusyawarah untuk
mencapai mufakat, bijaksana, dan senantiasa adil dalam segala perbuatan. Tanpa
sikap agamis, PANCASILA akan menjadi PANCASIL tanpa arti yang jelas.
Hadirin
yang berbahagia
9 PANCASILA Generasi Bangsa seakan
bersebrangan dengan sikap generasi bangsa saat ini. Tak ada prestasi, Aktif
dalam jeruji besi, Nasionalisme kebobrokan, Continue dalam kemaksiatan, Agresif
dalam penindasan, Sosial dalam keburukan, Implementasi salah kaprah, luhur tak
lagi menyapa, dan sikap agamis tak lagi merangkulnya. Ada apa? Kenapa banyak
perkosaan, pembunuhan, narkoba, perjudian, tawuran, korupsi, dan sikap apatis
lainnya yang dilakukan generasi bangsa? Jawabannya adalah, karena mereka tidak
paham akan Pancasila. Karena orang yang paham akan Pancasila tidak akan berbuat
senonoh dan salah.
Majukan dirimu wahai anak muda!.
Jadikan 9 PANCASILA generasi bangsa, sebagai sikap yang bertengger dihatimu.
Kau adalah Agent Of Change dalam menjaga Kearifan Lokal Bangsa. Mainkan
peranmu! Karena Agent of Change bukan hanya pemerintah, pejabat atau pemangku
kepentingan semata.
Hadirin
yang berbahagia
Bung Karno pernah berkata, bahkan
berkali-kali berkata, bahwa nenek moyang kita telah mewariskan kepada kita
nilai-nilai sebagaimana dimiliki oleh Pancasila. Yaitu Ketuhanan, kemanusiaan,
kebersatuan, kerakyatan, dan keadilan. Dan nilai-nilai tersebut, telah ada jauh
sebelum kedatangan agama Islam, Hindu, Buddha, Kristen dan agama-agama lain.
Nilai itu adalah Kearifan lokal.
Kearifan lokal ialah filsafat
yang hidup di dalam hati masyarakat, berupa kebijaksanaan akan kehidupan, way
of life, situs-situs adat, dan sejenisnya. Kearifan lokal (local
wisdom) merupakan produk berabad-abad yang melukiskan kedalaman batin
manusia dan keluasan relasionalitas dengan sesamanya serta menegaskan keluhuran
rasionalitas hidupnya.
Tugas
kita bukan hanya membangun bangsa, namun juga menjaga kearifan lokal Nusantara.
Berikut the power of young Man. Peran
generasi muda dalam menjaga kearifan lokal Nusantara :
1. Mereaktualisasikan nilai-nilai
pancasila. Ini bertujuan agar Pancasila dapat dijadikan acuan bagi bangsa
Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang
akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar.
2. Menyembuhkan
“Amnesia Nasional” dengan membangkitkan kearifan lokal, budaya bangsa, suku,
ras dsb. Dengan cara memberikan obat Pancasila atas Amnesia Nasional yang
menimpa. Maka, budaya lokal tersembuhkan dan terlepas dari keterjebakan oleh Kearifan
Negara luar.
3. Merestorasi atau Merevitalisasi
kearifan lokal. Artinya kita sebagai generasi muda harus menghidupkan kembali
nilai-nilai budaya yang mulai hilang dan terkikis zaman. Apalagi ini zaman
modern dan miliknya anak muda. Anak muda harus banyak mensosialisasikan di
media sosial mengenai budaya dan kearifan lokal yang mereka miliki. Kenalkan
pada dunia, bahwa Indonesia punya budaya dan etnik yang tidak kalah dengan
Negara lain. Buat budaya kita semenarik mungkin dan bisa beradaptasi dengan
dunia global.
4. Generasi muda harus giat belajar.
Tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri. Bisa dengan mengikuti
pertukaran pelajar, organisasi luar negeri, seminar budaya dsb. Tanpa kita
sadari, sebenarnya kita sedang memperkenalkan budaya yang kita miliki.
5. Menghidupkan
nilai-nilai pancasila dan Undang-Undang dasar. Terutama sila ketiga. Persatuan
Indonesia. Indonesia harus bersatu, bukan hanya Generasi muda, namun juga
generasi tua, guru, dosen, dokter, dan sebagainya. Mereka memiliki peran yang
sama dalam memajukan Indonesia.
6. Mensosialisasikan
kebudayaan yang dimilki agar tidak diakui Negara lain. Belajar budaya daerah,
datang ke etnik terpencil, dukung gotong royong, toleransi, buat sanggar seni,
pertunjukan seni, pekan budaya, buat organisasi budaya dan sebagainya.
Itulah
lima peran generasi muda, yang memang harus kita lakukan. Jangan hanya menjadi
sampah masyarakat, galau tidak karuan, tidur tanpa tujuan, menonton televisi
hanya sekedar hiburan. Jadilah kita anak muda yang kehadirannya diharapkan,
suaranya didengar, kebaikannya ditiru, dan gagasannya dilanjutkan. Jangan
biarkan kearifan terkikis oleh zaman. Tapi, buatlah ia bangkit dari ketakutan
akan globalisasi yang melenakan.
Ingat
Kata Bung Karno! “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru
dari akarnya dan berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku guncangkan dunia.
Hadirin
yang berbahagia
Mari
kita hidupkan Pancasila sebagai jiwa bangsa yang mati suri. Hidupkan kearifan
lokal yang ada di ambang kematian. Hidupkan generasi kita menjadi emberio
bangsa berpaham pancasila. Hidupkan diri kita, raih prestasi kita, kerahkan
semua tenaga kita. Indonesia akan maju dengan kegigihan dan tekad kita. karena
pancasila akan menunjukan kesaktiannya.
Wahai
generasi muda…Ingatlah darah yang mengalir didahi, ditelinga, dijantung, dan dihati
para pahlawan kita. Ingat Bung Karno, Ingat jendral Sudirman, ingat Bung Hatta,
ingat semua pahlawan yang rela mati untuk menegakkan kemerdekaan Negara kita.
Kita tidak perlu mengangkat senjata, kita hanya perlu maju beberapa langkah
untuk memajukan negeri kita.
Hindari
Inferiority Syndrome yang takut sebelum melangkah, merinding sebelum
bertanding, dan kalah sebelum naik ring.
Mari!
Majukan dirimu maka Majulah Negerimu.
Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas
perhatiannya.
Kebenaran datangnya dari Allah SWT dan kesalahan datangnya
dari diri saya yang penuh alpa dan lupa.ss
Wassalamu’alaikum wr wb
0 thoughts on "PIDATO TERBAIK! MAJUKAN DIRIMU MAJULAH NEGERIMU"