“Malaikat
Kecil Untuk Suci”
“Ukh...ukh..ukh.”suara
batuk terdengar dengan keras di kamar ibu.
“Suci,tolong
abilkan ibu air!”panggil ibu dari kamarnya.
“Ya bu,
sebentar Suci
ambilkan.”ucap Suci yang bergegas mengambil air di
dapurnya yang tua nan kumuh itu.
“Ini bu airnya.”ucap
Suci dengan
penuh perhatian.
“Bu.Suci
mohon,ibu jangan bekerja terlalu keras lagi nanti ibu tambah sakit.Biarkan Suci
saja yang menggantikan pekerjaan ibu mencari batu di sugai.Lagipula air sungai
sekarang ini sangat deras dan dalam, itu berbahaya untuk kesehatan dan kelamatan
ibu.”
“Sudahlah Suci,sekarang
tugasmu hanya belajar agar masa depan kamu tidak seperti ibu.”Ucap ibu
sambil mengelus kepala Suci.
“Ya bu,Suci
janji akan belajar dan kalau Suci sukses nanti Suci akan belikan ibu rumah yang
megah,mobil mewah,perhiasan yang banyak dan anak naikin haji ibu.”ungkap Suci
dengan penuh ambisi.
Malam
bersembunyi di balik tirai pajar,pagi datang dengan menyongsong matahari
kehidupan.
“Akmal,Akmil kalian
jangan nakal di sekolah buat kakak bangga sama kalian jangan sampai bikin ulah
lagi.’’pesan Suci pada
kedua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Suci,berjalan
menempuh perjalan jauh dari rumah menuju sekolahnya,tak jarang ia harus melewati
sungai yang deras demi mendapatkan ilmu di sekolah.Dengan sepatu yang semakin
iris menuntun langkah menuju masa depan yang kemilau.
Di sekolah,Suci
sangat terkenal karena kepandaiannya berhitung.Tak heran ia mempunyai banyak
teman dan sayang sangat dicintai oleh guru-gurunya di sekolah. Pagi itu, pak Wildan
memberitahukan berita gembira pada Suci karena Suci telah berhasil mendapatkan
beasiswa sekolah ke luar negeri dan tabungan pendidikan dari pemerintah dan itu
sangat pantas di berikan pada suci karena dia adalah salah satu murid berprestasi
***
Suci tak
sabar ingin memberitahukan pada ibunya perihal beasiswa yang ia dapatkan pada
ibunya di rumah.
Tangis mengguncang
hati suci dengan hebatnya,para tetangga memberitahu suci kalau ibunya sedang dirawat
di rumah sakit.Suci mengayuh sepedanya dengan cepat dan dengan air mata yang
mengalir semakin deras dipipinya
“Dokter ibu
sakit apa?”tanya suci sesampainya di rumah sakit tempat ibunya dirawat.
“Nak,kamu
yang sabar ya.”Ibumu kehilangan satu ginjalnya dan besar kemungkinan usia ibumu
tidak akan bertahan lama.
“Tidak
mungkin pasti ada jalan lain dokter,pasti ada jalan lain agar penyakit ibu saya
bisa disembuhkan .”
“Ya nak, memang ada
jalan lain,yaitu pendonoran ginjal sebagai pengganti ginjal ibumu yang sudah
tak berfungsi dan sekarang tidak ada orang donatur yang ingin mendonorkan
ginjalnya untuk ibumu.”
“Dok tolong
ambil ginjal saya dok, ibu saya harus tetap hidup saya mencintai dan
menyanyangi ibu saya lebih dari menyanyangi diri saya sendiri.
“Tapi
nak,sebelum melakukan operasi pengangkatan ginjal ada uang yang harus dibayar
dan itu nilainya tak sedikit.”ungkap dokter.
“Ya allah hamba
harus bagaimana?”tanya Suci dalam hati kecilnya.
Suci
senantiasa menunggu ibunya di rumah sakit walaupun sejak kecil ibunya selalu
memarahinya,memukulinya,dan mencaci makinya namun ibunya tetap menjadi nomor
satu di hatinya karena Suci tahu apa yang dilakukan ibunya untuk
mendidik dirinya menjadi anak yang memiliki karakter dan tidak mudah menyerah.
Hari kedua
ibunya dirawat dirumah sakit,suci memutuskan untuk membawa ibunya pulang karena
suci tak mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit.Dan suci juga khawatir
dengan keadaan adik-adiknya dirumah yang sudah dua hari dirawat tetangga.
***
Di tengan malam suntuk,dan di atas sejadah
cinta suci berdoa untuk kesembuhan ibunya,dan dipermudah rezkinya untuk
membiayai sekolah adiknya.
Setiap malam,Suci
selalu mencari dan mengais nasi-nasi di komplek yang cukup jauh dari rumahnya. Suci
selalu mencari makanan sisa yang masih bisa dimakan untuk sarapan ibu dan
adiknya.Suci selalu membuat makanan menjadi bisa di konsumsi dan mengenyangkan
perut.
“Bu,ibu makan
dulu ya!”seru Suci dengan
pelan.
“Suci,kamu
mendapatkan makanan ini dari mana?inget ya,ibu tidak pernah mengajarimu untuk
mencuri.”
“Ini makanan
halal bu,walaupun ini sisa makanan kemarin tapi masih lezat ko”.ucap Suci dengan
sedikit kebohongan dari bibir mungilnya.
Suci,maafin
ibu ya sekarang ibu sakit-sakitan dan tak bisa berbuat banyak untuk kamu dan
kedua adikmu.”ucap ibu dengan air mata yang mengalir deras dipipinya.
“Sudahlah bu,ini
semua adalah cobaan dari Allah untuk hambanya.”ucap suci sambari menghapus air
mata ibunya.
Akmal dan Akmil tak bisa
berbuat banyak,mereka berdua hanya bisa terdiam dan melihat kakak dan
ibunya yang menangis dan tak mengerti penyebab tangis ibu dan kakaknya.
“Pak,apa
boleh saya mengambil semua uang beasiswa saya?”tanya Suci dengan
penuh pengharapan.
“Memangnya
mau kamu pakai untuk apa uang sebanyak itu?”tanya pak Wildan.
“Uangnya untuk
biaya operasi ibu saya pak.”
“Memangnya
ibumu sakit apa,sehingga membutuhkan uang sebanyak itu?”
***
“Ibu
saya mengidap penyakit ginjal yang sudah semakin parah,ibu saya tidak bekerja
lagi sehingga saya yang harus mencari uang untuk makan dan keperluan ibu dan
adik-adik saya setiap hari.”ucap suci dengan menyelimuti rasa sedihnya.
“ Bapak ikut
prihatin dengan keadaanmu sekarang,tapi uang beasiswa itu hanya bisa diambil
setengahnya dan bapak tak bisa berbuat apa-apa.Maafkan bapak ya Suci!”
“Ya
pak terima kasih atas pengertian bapak sehingga dalam waktu singkat ini ibu
saya bisa dioperasi.”ungkap Suci dengan perasaan bahagia.
Sepulangnya
sekolah,Suci membawa karung
kecil untuk mengais botol minuman bekas.Suci melakukan semua itu karena hasil
dari mencari barang bekas itu bisa digunakan untuk uang tambahan biaya operasi ibunya.
Tak jarang Suci
menemukan nasi beserta lauknya yang terbuang sia-sia walaupun nasi dan lauknya
masih bisa dimakan.Tanpa ragu suci membawa semuanya pulang berharap itu semua
bisa mengenjangkan perut ibu dan adik-adiknya.
Di tengan
perjalanan Suci melihat
anak kecil yang menjebrang di tengah truk besar di depannya.
“Awas!!”teriak suci
sambil berlari menolong anak itu.
“Terima kasih
kak sudah menolong rara.’’ucap gadis kecil itu.
“Dek,lain kali
adik hati hati ya.
“Ya kak.”ucap adik
kecil itu dan meninggalkan Suci.
Sore itu Akmal
kelaparan dan Akmil sedang
demam,Suci tak tahu
apa yang harus ia lakukan sampai akhirnya datang Ayu dan Toni ke rumahnya
mengantarkan makanan untuk keluarga suci.
“Suci,ini
makanan untuk kamu.”ucap Toni sambil memberikan rantang berisi
makanan itu.
***
“Suci,di mana
ibumu?”tanya Ayu.
“Ibu saya
sedang sakit,sekarang beliau hanya bisa berbaring di kamar.’’
“Kami turut
prihatin ya,dan semoga ibumu lekas sembuh.’’Ucap Ayu.
“Yu,bisa kau
tinggalkan aku dan Suci berdua di sini.”bisik Toni.
Akhirnya Ayu
meninggalkan suci dan pera berdua di teras kecil milik suci dan dengan tekad
yang bulat toni mengunggkapkan isi hatinya pada suci kalau dia tidak hanya
menganggap suci sebagai sahabatnya tapi ia mencintai suci lebih dari itu.
Namun,Suci hanya
bisa diam dalam dekapan jilbab putihnya.Dia tak tau apa yang harus dia katakan
pada Toni,Suci hanya
diam seribu bahasa dan seribu satu isyarat.
“Suci aku
mencintaimu,maafkan aku kalau aku mengunggkapkan ini terlalu cepat tapi tapi
aku tak bisa terus memendam perasaan ini lebih dalam lagi.”ucap Toni.
“Toni,sampai
kapanpun aku,kamu,dan Ayu adalah sahabat aku dan selamannya akan menjadi sahabat
sampai kita tua nanti.”ucap Suci dengan pelan.
Suci selalu
menutupi perasaannya pada Toni,padahal sebenarnya ia juga
mencintai dan menyayangi Toni lebih dari sahabat namun, Suci merasa
dia tidak bisa lebih lama menangis,tertawa,dan menghadapi semua bersama dan
bisa terus menjalin rasa saling menghormati walaupun mereka berbeda agama dan
harta.
Hisak tangis
tak kunjung usai dari pipi putih Suci,ibunya dilarikan lagi ke rumah sakit
karena harus segera melakukan operasi yang biayanya tak sedikit.
Suci
yang ditemani toni ke rumah sakit meminta kepada dokter agar ginjalnya
diberikan kepada ibu suci karena tidak ada orang yang ingin mendonorkan
ginjalnya kepada ibu suci.
Namun,orang
tua Toni tidak
rela jika ginjal anaknya diberikan kepada ibu seorang gadis gembel yang miskin.
***
Suci tak bisa
melakukan apa-apa kecuali mengambil air wudhu dan berdoa untuk kesembuhan
ibunya.
“Ya allah jika
memang engkau ingin mengambil ibuku,ambillah dia dengan cara yang baik.Dan jika
engkau masih memberikan ibuku waktu untuk hidup jadikanlah hidupnya penuh
bahagia dan tawa.Ya allah jika memang aku harus harus memberikan ginjalku pada
ibuku,aku ikhalas ya allah.Dan jika memang setelah itu aku tiada jadikanlah
ginjal itu melekat di dalam tubuh ibuku dan menjadi jalan agar aku selalu ada
dalam dekap hangat ibuku.’’tangis Suci dalam lautan doanya.
“Maaf dek,sebelum memulai
operasi adek harus membayar uang administrasi!”ucap suster.
Suci teringat
uang beasiswanya ia gunakan untuk membiayai sekolah Akmal dan Akmil adeknya
yang sudah nunggak 6 bulan Suci terdiam dalam tangis di ruang tunggu berharap
ada malaikat kecil yang menolongnya.
“Kak kenapa
menangis?”tanya anak kecil sambil memukul pundak Suci dengan pelan.
“Adek....!kok
bisa di sini bukannya kamu anak kecil yang kemarin di tabrak truk itu
kan?”tanya Suci dengan heran.
“Ya kak,Rara lagi
nunggu papa yang sedang memeriksa pasien.”
Ternyata anak
kecil itu adalah anak pak Rizal,dokter yang memeriksa ibu Suci.
“Pa...pa...itu
kakak yang menolong Rara kemarin ketika Rara mau di tabrak truk itu,rara tidak
tau apa yang terjadi kalau kakak itu tidak ada.”ucap anak kecil itu sambil
menarik baju papanya.
“Nak Suci,terima kasih
telah menolong anak saya Rara.Dan sebagai
balasannya kamu tidak perlu membayar uang untuk administrasi ibumu.”ucap doker Rizal.
***
Suci yang
mendengar perkataan dokter Rizal itu langsung sujud syukur
sebagai tanda terima kasihnya pada Allah swt
karena telah mengirimkan malaikat kecil untuk Suci,dan Suci tidak
tahu apa yang akan terjadi jika anak itu tidak ada.
Tepat pukul 9
malam,operasi dilakukan,namun yang menangani operasi ibu Suci bukan
dokter Rizal karena
dokter Rizal sendiri
sedang melakukan operasi pengangkatan hati di tempat lain.
Akhirnya operasi
telah selesai dilakukan,Suci dan ibunya diizinkan pulang malam
itu juga karena kondisi ibu Suci sudah semakin membaik.
Ketika Suci
sampai di lantai bawah,ia mendengar tangisan dokter Rizal Suci langsung
menuju pintu ruangan itu dan terlihat malaikat maut mengucapkan selamat tinggal
pada Rara si
malaikat kecil.Gadis kecil itu terbaring pucat dengan cahaya putih di
wajahnya,senyum yang begitu hangat ,dan nyawa telah pergi meninggalkan tubuh Rara yang begitu
mungil. Suci tak bisa menahan
tangisnya,tanpa izin ia masuk dan memeluk malaikat kecil itu.
Suci pulang
dengan ibunya dengan membawa irisan hatinya yang begitu perih ditinggal rara
yang begitu baik padanya.
Suci,kembali ke sekolah
untuk melanjutkan cita-citanya dengan teman dan sahabat yang begitu
mencintainya.Teman-temannya sangat senang melihat Suci telah
kembali,karena ingin belajar dan bertanya pada si jenius Suci.
****
Awan nampak
seperti tak bersahabat dengan langit,bunga-bunga berguguran bagaikan bunga
sakura di jepang.angin tornado nampaknya akan datang dengan petir hebat yang
menggetarkan dunia.
Suci tetap
saja mengais barang bekas di tempat pembuangan sampah di dekat sekolahnya
dengan karung kecil di tangannya.Tanpa menghiraukan hujan yang begitu deras ia
tetap mengais rezkinya dibalik tempat sampah itu.Sampai akhirnya ia pingsan tak
sadarkan diri namun bersyukur Toni dan Ayu melihat Suci dan
langsung membawa Suci ke dalam mobil dan
mengantarkannya pulang.
Rasa sakit
yang diderita suci pasca operasi begitu terasa ditambah hujan yang melumpuhkan
semua badan suci sehingga kaku untuk digerakkan.
***
“Bu...tolong
jaga Akmal dan Akmil,jadikan mereka anak-anak yang memiliki karakter dan cerdas
seperti ibu mendidik Suci dulu.Toni Ayu terima kasih telah menjadi sahabat yang
selalu ada untuk aku,menjadi malaikat disaat aku membutuhkan bantuan,menjadi
nabi saat aku membutuhkan pencerahan,dan menjadi pelangi yang memberikan warna dan
menghiasi hidupku.Akmal ,Akmil jaga ibu dan jangan pernah durhaka pada
ibu.”pesan Suci dalam detik-detik
terakhir hidupnya.
Dengan
mengucap dua kalimat syahadat,Suci menghembuskan nafas terakhirnya dan
meninggalkan segelintir irisan hatinya,sahabatnya, ibunya,dan
adik-adiknya.Mereka tak bisa menahan tangis melihat kepergian suci yang begitu
cepat.
Kini,Suci
telah pergi dari negeri yang penuh kontropersi ke negeri yang penuh kedamaian
dan kini Suci telah pergi dan berada di surga bersama ayah dan malaikat
kecilnya.Setelah kepergian Suci,ibu selalu kesepian dan selalu teringat anaknya
yang berhati Suci itu.
Ketika ibu
membersihkan kamar Suci,ia melihat ada kotak kecil yang begitu indah
berbungkuskan kado berisi ucapan”selamat hari ibu”walaupun kado itu tertupi
debu yang begitu tebal namun kado itu nampak
masih indah.Ketika ibu membukannya ternyata kado itu berisi cincin yang begitu
indah dengan surat di dalamnya.
Dengan
pelan ibu membaca surat itu.
“untuk ibuku
tersayang.”
Mungkin
setelah ibu membaca surat ini,suci telah tiada di dunia ini.Kado ini untuk ibu
dan cincin yang ada di dalamnya Suci dapatkan dari hasil mencari barang
bekas.Maafkan Suci tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih berharga untuk
ibu.Suci sengaja membelikan cincin yang percis sama seperti cincin yang ibu
jual dulu untuk biaya sekolah Suci.Semoga ibu selalu menjagannya.
***
Ibu, Suci sekarang ada di tubuh ibu,maafkan
jika Suci tidak memberi tahu kalau ginjal yang ada dalam tubuh Suci sekarang
adalah ginjal milik Suci.
Suci memberikan ginjal Suci,karena Suci yakin
ibu bisa menjagannya dan degan ginjal itu ibu bisa terus hidup dan melihat
indahnya dunia dan menjaga akmal dan akmil sampai mereka dewasa nanti.Semoga
setiap lembaran usang dan irisan-irisan hati dapat selalu kita selesaikan
dengan bertahan dan bertuhan.”salam manis anakmu sayang.
Air mata
terus menetes di pipi ibu dia akan selau mengingat anak yang selalu ia marahi
sewaktu kecil dan dia didik degan keras dan penuh tanggung jawab.
1 thoughts on "CERPEN KELUARGA"
superr...., beneran ane bingung dapet idenya gimana ya...
kok bisa-bisanya buat tulisan bagus seperti ini. mantap dan lanjutkan sist
Salam HOKI