CERPEN KELUARGA

September 14, 2017 1 komentar
Malaikat Kecil Untuk Suci
“Ukh...ukh..ukh.”suara batuk terdengar dengan keras di kamar ibu.
Suci,tolong abilkan ibu air!”panggil ibu dari kamarnya.
“Ya bu, sebentar Suci ambilkan.”ucap Suci yang bergegas mengambil air di dapurnya yang tua nan kumuh itu.
“Ini bu airnya.”ucap Suci dengan penuh perhatian.
“Bu.Suci mohon,ibu jangan bekerja terlalu keras lagi nanti ibu tambah sakit.Biarkan Suci saja yang menggantikan pekerjaan ibu mencari batu di sugai.Lagipula air sungai sekarang ini sangat deras dan dalam, itu berbahaya untuk kesehatan dan kelamatan ibu.”
“Sudahlah Suci,sekarang tugasmu hanya belajar agar masa depan kamu tidak seperti ibu.”Ucap ibu sambil mengelus kepala Suci.
“Ya bu,Suci janji akan belajar dan kalau Suci sukses nanti Suci akan belikan ibu rumah yang megah,mobil mewah,perhiasan yang banyak dan anak naikin haji ibu.”ungkap Suci dengan penuh ambisi.
            Malam bersembunyi di balik tirai pajar,pagi datang dengan menyongsong matahari kehidupan.
            “Akmal,Akmil kalian jangan nakal di sekolah buat kakak bangga sama kalian jangan sampai bikin ulah lagi.’’pesan Suci pada kedua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
            Suci,berjalan menempuh perjalan jauh dari rumah menuju sekolahnya,tak jarang ia harus melewati sungai yang deras demi mendapatkan ilmu di sekolah.Dengan sepatu yang semakin iris menuntun langkah menuju masa depan yang kemilau.
Di sekolah,Suci sangat terkenal karena kepandaiannya berhitung.Tak heran ia mempunyai banyak teman dan sayang sangat dicintai oleh guru-gurunya di sekolah. Pagi itu, pak Wildan memberitahukan berita gembira pada Suci karena Suci telah berhasil mendapatkan beasiswa sekolah ke luar negeri dan tabungan pendidikan dari pemerintah dan itu sangat pantas di berikan pada suci karena dia adalah salah satu murid berprestasi

***
            Suci tak sabar ingin memberitahukan pada ibunya perihal beasiswa yang ia dapatkan pada ibunya di rumah.
            Tangis mengguncang hati suci dengan hebatnya,para tetangga memberitahu suci kalau ibunya sedang dirawat di rumah sakit.Suci mengayuh sepedanya dengan cepat dan dengan air mata yang mengalir semakin deras dipipinya
            “Dokter ibu sakit apa?”tanya suci sesampainya di rumah sakit tempat ibunya dirawat.
“Nak,kamu yang sabar ya.”Ibumu kehilangan satu ginjalnya dan besar kemungkinan usia ibumu tidak akan bertahan lama.
“Tidak mungkin pasti ada jalan lain dokter,pasti ada jalan lain agar penyakit ibu saya bisa disembuhkan .”
“Ya nak, memang ada jalan lain,yaitu pendonoran ginjal sebagai pengganti ginjal ibumu yang sudah tak berfungsi dan sekarang tidak ada orang donatur yang ingin mendonorkan ginjalnya untuk ibumu.”
Dok tolong ambil ginjal saya dok, ibu saya harus tetap hidup saya mencintai dan menyanyangi ibu saya lebih dari menyanyangi diri saya sendiri.
            “Tapi nak,sebelum melakukan operasi pengangkatan ginjal ada uang yang harus dibayar dan itu nilainya tak sedikit.”ungkap dokter.
Ya allah hamba harus bagaimana?”tanya Suci dalam hati kecilnya.
            Suci senantiasa menunggu ibunya di rumah sakit walaupun sejak kecil ibunya selalu memarahinya,memukulinya,dan mencaci makinya namun ibunya tetap menjadi nomor satu di hatinya karena Suci tahu apa yang dilakukan ibunya untuk mendidik dirinya menjadi anak yang memiliki karakter dan tidak mudah menyerah.
            Hari kedua ibunya dirawat dirumah sakit,suci memutuskan untuk membawa ibunya pulang karena suci tak mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit.Dan suci juga khawatir dengan keadaan adik-adiknya dirumah yang sudah dua hari dirawat tetangga.

***
 Di tengan malam suntuk,dan di atas sejadah cinta suci berdoa untuk kesembuhan ibunya,dan dipermudah rezkinya untuk membiayai sekolah adiknya.
Setiap malam,Suci selalu mencari dan mengais nasi-nasi di komplek yang cukup jauh dari rumahnya. Suci selalu mencari makanan sisa yang masih bisa dimakan untuk sarapan ibu dan adiknya.Suci selalu membuat makanan menjadi bisa di konsumsi dan mengenyangkan perut.
            Bu,ibu makan dulu ya!”seru Suci dengan pelan.
“Suci,kamu mendapatkan makanan ini dari mana?inget ya,ibu tidak pernah mengajarimu untuk mencuri.”
            “Ini makanan halal bu,walaupun ini sisa makanan kemarin tapi masih lezat ko”.ucap Suci dengan sedikit kebohongan dari bibir mungilnya.
            Suci,maafin ibu ya sekarang ibu sakit-sakitan dan tak bisa berbuat banyak untuk kamu dan kedua adikmu.”ucap ibu dengan air mata yang mengalir deras dipipinya.
“Sudahlah bu,ini semua adalah cobaan dari Allah untuk hambanya.”ucap suci sambari menghapus air mata ibunya.
Akmal dan Akmil tak bisa berbuat banyak,mereka berdua hanya bisa terdiam dan melihat kakak dan ibunya yang menangis dan tak mengerti penyebab tangis ibu dan kakaknya.
“Pak,apa boleh saya mengambil semua uang beasiswa saya?”tanya Suci dengan penuh pengharapan.
“Memangnya mau kamu pakai untuk apa uang sebanyak itu?”tanya pak Wildan.
            Uangnya untuk biaya operasi ibu saya pak.”
“Memangnya ibumu sakit apa,sehingga membutuhkan uang sebanyak itu?”

***
            “Ibu saya mengidap penyakit ginjal yang sudah semakin parah,ibu saya tidak bekerja lagi sehingga saya yang harus mencari uang untuk makan dan keperluan ibu dan adik-adik saya setiap hari.”ucap suci dengan menyelimuti rasa sedihnya.
“ Bapak ikut prihatin dengan keadaanmu sekarang,tapi uang beasiswa itu hanya bisa diambil setengahnya dan bapak tak bisa berbuat apa-apa.Maafkan bapak ya Suci!”
            “Ya pak terima kasih atas pengertian bapak sehingga dalam waktu singkat ini ibu saya bisa dioperasi.”ungkap Suci dengan perasaan bahagia.
            Sepulangnya sekolah,Suci membawa karung kecil untuk mengais botol minuman bekas.Suci melakukan semua itu karena hasil dari mencari barang bekas itu bisa digunakan untuk  uang tambahan biaya operasi ibunya.
Tak jarang Suci menemukan nasi beserta lauknya yang terbuang sia-sia walaupun nasi dan lauknya masih bisa dimakan.Tanpa ragu suci membawa semuanya pulang berharap itu semua bisa mengenjangkan perut ibu dan adik-adiknya.
Di tengan perjalanan Suci melihat anak kecil yang menjebrang di tengah truk besar di depannya.
“Awas!!”teriak suci sambil berlari menolong anak itu.
Terima kasih kak sudah menolong rara.’’ucap gadis kecil itu.
Dek,lain kali adik hati hati ya.
Ya kak.”ucap adik kecil itu dan meninggalkan Suci.
            Sore itu Akmal kelaparan dan Akmil sedang demam,Suci tak tahu apa yang harus ia lakukan sampai akhirnya datang Ayu dan Toni ke rumahnya mengantarkan makanan untuk keluarga suci.
Suci,ini makanan untuk kamu.”ucap Toni sambil memberikan rantang berisi makanan itu.
***
Suci,di mana ibumu?”tanya Ayu.
Ibu saya sedang sakit,sekarang beliau hanya bisa berbaring di kamar.’’
Kami turut prihatin ya,dan semoga ibumu lekas sembuh.’’Ucap Ayu.
Yu,bisa kau tinggalkan aku dan Suci berdua di sini.”bisik Toni.
Akhirnya Ayu meninggalkan suci dan pera berdua di teras kecil milik suci dan dengan tekad yang bulat toni mengunggkapkan isi hatinya pada suci kalau dia tidak hanya menganggap suci sebagai sahabatnya tapi ia mencintai suci lebih dari itu.
            Namun,Suci hanya bisa diam dalam dekapan jilbab putihnya.Dia tak tau apa yang harus dia katakan pada Toni,Suci hanya diam seribu bahasa dan seribu satu isyarat.
            “Suci aku mencintaimu,maafkan aku kalau aku mengunggkapkan ini terlalu cepat tapi tapi aku tak bisa terus memendam perasaan ini lebih dalam lagi.”ucap Toni.
            “Toni,sampai kapanpun aku,kamu,dan Ayu adalah sahabat aku dan selamannya akan menjadi sahabat sampai kita tua nanti.”ucap Suci dengan pelan.
            Suci selalu menutupi perasaannya pada Toni,padahal sebenarnya ia juga mencintai dan menyayangi Toni lebih dari sahabat namun, Suci merasa dia tidak bisa lebih lama menangis,tertawa,dan menghadapi semua bersama dan bisa terus menjalin rasa saling menghormati walaupun mereka berbeda agama dan harta.
Hisak tangis tak kunjung usai dari pipi putih Suci,ibunya dilarikan lagi ke rumah sakit karena harus segera melakukan operasi yang biayanya tak sedikit.
            Suci yang ditemani toni ke rumah sakit meminta kepada dokter agar ginjalnya diberikan kepada ibu suci karena tidak ada orang yang ingin mendonorkan ginjalnya kepada ibu suci.
Namun,orang tua Toni tidak rela jika ginjal anaknya diberikan kepada ibu seorang gadis gembel yang miskin.
***
Suci tak bisa melakukan apa-apa kecuali mengambil air wudhu dan berdoa untuk kesembuhan ibunya.
            Ya allah jika memang engkau ingin mengambil ibuku,ambillah dia dengan cara yang baik.Dan jika engkau masih memberikan ibuku waktu untuk hidup jadikanlah hidupnya penuh bahagia dan tawa.Ya allah jika memang aku harus harus memberikan ginjalku pada ibuku,aku ikhalas ya allah.Dan jika memang setelah itu aku tiada jadikanlah ginjal itu melekat di dalam tubuh ibuku dan menjadi jalan agar aku selalu ada dalam dekap hangat ibuku.’’tangis Suci dalam lautan doanya.
 “Maaf dek,sebelum memulai operasi adek harus membayar uang administrasi!”ucap suster.
Suci teringat uang beasiswanya ia gunakan untuk membiayai sekolah Akmal dan Akmil adeknya yang sudah nunggak 6 bulan Suci terdiam dalam tangis di ruang tunggu berharap ada malaikat kecil yang menolongnya.
            “Kak kenapa menangis?”tanya anak kecil sambil memukul pundak Suci dengan pelan.
“Adek....!kok bisa di sini bukannya kamu anak kecil yang kemarin di tabrak truk itu kan?”tanya Suci dengan heran.
            “Ya kak,Rara lagi nunggu papa yang sedang memeriksa pasien.”
Ternyata anak kecil itu adalah anak pak Rizal,dokter yang memeriksa ibu Suci.
“Pa...pa...itu kakak yang menolong Rara kemarin ketika Rara mau di tabrak truk itu,rara tidak tau apa yang terjadi kalau kakak itu tidak ada.”ucap anak kecil itu sambil menarik baju papanya.
            “Nak Suci,terima kasih telah menolong anak saya Rara.Dan sebagai balasannya kamu tidak perlu membayar uang untuk administrasi ibumu.”ucap doker Rizal.
***
            Suci yang mendengar perkataan dokter Rizal itu langsung sujud syukur sebagai tanda terima kasihnya pada Allah swt  karena telah mengirimkan malaikat kecil untuk Suci,dan Suci tidak tahu apa yang akan terjadi jika anak itu tidak ada.
            Tepat pukul 9 malam,operasi dilakukan,namun yang menangani operasi ibu Suci bukan dokter Rizal karena dokter Rizal sendiri sedang melakukan operasi pengangkatan hati di tempat lain.
            Akhirnya operasi telah selesai dilakukan,Suci dan ibunya diizinkan pulang malam itu juga karena kondisi ibu Suci sudah semakin membaik.
            Ketika Suci sampai di lantai bawah,ia mendengar tangisan dokter Rizal Suci langsung menuju pintu ruangan itu dan terlihat malaikat maut mengucapkan selamat tinggal pada Rara si malaikat kecil.Gadis kecil itu terbaring pucat dengan cahaya putih di wajahnya,senyum yang begitu hangat ,dan nyawa telah pergi meninggalkan tubuh Rara yang begitu mungil. Suci tak bisa menahan tangisnya,tanpa izin ia masuk dan memeluk malaikat kecil itu.
Suci pulang dengan ibunya dengan membawa irisan hatinya yang begitu perih ditinggal rara yang begitu baik padanya.
Suci,kembali ke sekolah untuk melanjutkan cita-citanya dengan teman dan sahabat yang begitu mencintainya.Teman-temannya sangat senang melihat Suci telah kembali,karena ingin belajar dan bertanya pada si jenius Suci.
                                                                        ****
            Awan nampak seperti tak bersahabat dengan langit,bunga-bunga berguguran bagaikan bunga sakura di jepang.angin tornado nampaknya akan datang dengan petir hebat yang menggetarkan dunia.
            Suci tetap saja mengais barang bekas di tempat pembuangan sampah di dekat sekolahnya dengan karung kecil di tangannya.Tanpa menghiraukan hujan yang begitu deras ia tetap mengais rezkinya dibalik tempat sampah itu.Sampai akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri namun bersyukur Toni dan Ayu melihat Suci dan langsung membawa Suci ke dalam mobil dan mengantarkannya pulang.
            Rasa sakit yang diderita suci pasca operasi begitu terasa ditambah hujan yang melumpuhkan semua badan suci sehingga kaku untuk digerakkan.
***
            “Bu...tolong jaga Akmal dan Akmil,jadikan mereka anak-anak yang memiliki karakter dan cerdas seperti ibu mendidik Suci dulu.Toni Ayu terima kasih telah menjadi sahabat yang selalu ada untuk aku,menjadi malaikat disaat aku membutuhkan bantuan,menjadi nabi saat aku membutuhkan pencerahan,dan menjadi pelangi yang memberikan warna dan menghiasi hidupku.Akmal ,Akmil jaga ibu dan jangan pernah durhaka pada ibu.”pesan  Suci dalam detik-detik terakhir hidupnya.
            Dengan mengucap dua kalimat syahadat,Suci menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan segelintir irisan hatinya,sahabatnya, ibunya,dan adik-adiknya.Mereka tak bisa menahan tangis melihat kepergian suci yang begitu cepat.
Kini,Suci telah pergi dari negeri yang penuh kontropersi ke negeri yang penuh kedamaian dan kini Suci telah pergi dan berada di surga bersama ayah dan malaikat kecilnya.Setelah kepergian Suci,ibu selalu kesepian dan selalu teringat anaknya yang berhati Suci itu.
Ketika ibu membersihkan kamar Suci,ia melihat ada kotak kecil yang begitu indah berbungkuskan kado berisi ucapan”selamat hari ibu”walaupun kado itu tertupi debu yang begitu tebal  namun kado itu nampak masih indah.Ketika ibu membukannya ternyata kado itu berisi cincin yang begitu indah dengan surat di dalamnya.
            Dengan pelan ibu membaca surat itu.
“untuk ibuku tersayang.”
Mungkin setelah ibu membaca surat ini,suci telah tiada di dunia ini.Kado ini untuk ibu dan cincin yang ada di dalamnya Suci dapatkan dari hasil mencari barang bekas.Maafkan Suci tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih berharga untuk ibu.Suci sengaja membelikan cincin yang percis sama seperti cincin yang ibu jual dulu untuk biaya sekolah Suci.Semoga ibu selalu menjagannya.
***
 Ibu, Suci sekarang ada di tubuh ibu,maafkan jika Suci tidak memberi tahu kalau ginjal yang ada dalam tubuh Suci sekarang adalah ginjal milik Suci.
 Suci memberikan ginjal Suci,karena Suci yakin ibu bisa menjagannya dan degan ginjal itu ibu bisa terus hidup dan melihat indahnya dunia dan menjaga akmal dan akmil sampai mereka dewasa nanti.Semoga setiap lembaran usang dan irisan-irisan hati dapat selalu kita selesaikan dengan bertahan dan bertuhan.”salam manis anakmu sayang.
Air mata terus menetes di pipi ibu dia akan selau mengingat anak yang selalu ia marahi sewaktu kecil dan dia didik degan keras dan penuh tanggung jawab.










Share Share Tweet Share

1 thoughts on "CERPEN KELUARGA"

avatar

superr...., beneran ane bingung dapet idenya gimana ya...
kok bisa-bisanya buat tulisan bagus seperti ini. mantap dan lanjutkan sist
Salam HOKI

LEAVE A REPLY