RESENSI CERPEN AYAH DAN SI GADIS KECIL

Februari 03, 2018 0 komentar

Portalsatu.com
SINOPSIS CERPEN AYAH DAN SI GADIS KECIL

Apa yang bisa dilakukan seorang gadis kecil untuk Ayahnya? Dan apa yang  bisa diberikan seorang Ayah tunggal kepada putrinya?

Pertanyaan itu menyeruak ketika Putri mengalami Manarche atau haid pertama di usia yang masih belia, 9 tahun . Putri yang dipanggil Putra karena ketomboyannya seakan tersentak dengan kejadian itu, tak terkecuali Ayah, sosok pendiam itu seakan tak tau apa yang harus dilakukannya ketika melihat Putri yang mulai beranjak dewasa. Takut, was-was dan bahagia menjadi satu. Pasalnya, ia bukan hanya menjadi seorang Ayah, namun juga menjadi seorang Ibu.

Sikap gadis kecil itu tempramen setelah haid pertamanya, tangis seakan menjadi keseharianya, beruntung ada sosok Ayah yang sabar menghapus derai air mata yang terus membasahi pipi merahnya. Hingga di sepertiga malam terakhir, sebuah cerita masa lalu tergingiang dikepala Ayah. Cerita yang selalu dipendamnya dari Putri, hingga Putri beranjak dewasa dan menemukan sosok Ibu dalam dirinya, suatu saat nanti.


“Cinta gadis kecil itu seperti Hummingbird. Salah satu burung mungil berbulu cantik dengan kepak dan kecepatan maju mundur luar biasa. Tak bisa berhenti mesti sesaat. Tak bisa melupakan walau telah beranjak. Berbeda dengan cinta Ayah, yang selalu diselimuti diam. Mungkin kau juga merasakannya. Namun malu mengatakan, bahwa “Kau pun mencintainya"


KELEBIHAN


   1. IDE YANG UNIK DAN TIDAK BIASA

   Penulis pemula hanya berpikir bagaimana menyelesaikan sebuah tulisan setelah ide lahir tanpa banyak berpikir apa ide itu biasa atau luar biasa. Sebaliknya, pada cerpen ini, penulis berhasil  menampilkan dirinya yang sejak awal berpikir untuk menemukan ide yang unik dan tidak biasa. Menyajikan hal baru pada karyanya. Cerpen Ayah Dan Si Gadis Kecil menunjukan ide yang luar biasa dari sosok yang kadang jarang dilirik *Ayah*dan konflik yang sangat jarang dibahas *Gadis kecil yang beranjak dewasa*. Cerpen ini berhasil menunjukkan kebenaran perkataan Napoleon Hill “Ideas are the beginning points of all fortunes” ide adalah awal atas segala keberhasilan. Termasuk cerpen ringkas ini.


   2. JUDUL YANG MENARIK

AYAH DAN SI GADIS KECIL adalah judul yang langsung membuat kita tergoda untuk membacanya. Simple dan tidak muluk. Sejatinya, judul harusnya memang menjadi brand, trade mark, dan image sebuah karya fiksi. Dan yang tak kalah penting, judul mewakili isi dari cerpen yang dibuat.
  

   3. KARAKTER TOKOH MEMBUMI

Karakter dianggap membumi apabila karakter tersebut believable, ditemukan di dunia nyata. Sosok Ayahnya terasa begitu nyata kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, dengan gadis polos dan keunikannya.

KEKURANGAN 


1.      BANYAK KATA-KATA YANG TYPO

Typo atau salah tulis memang lumrah bagi seorang penulis, namun terkadang kata-kata yang salah membuat jengkel pembaca atau walau juga banyak yang memakluminya. Kreatifitas sebagai editor tulisan sendiri memang harus dimiliki penulis manapun, karena lebih atau kurangnya satu huruf dari suatu kata bisa mengurangi esensi dari tulisan yang dibuat dan terkesan penulis tidak membaca karyanya lebih dari sekali.

2.      TIDAK BERANI EKSPLORASI ATAU EKSPERIMEN KATA


Cerita yang menarik namun dengan kata-kata yang umum/biasa rasanya akan kurang pas. Penulis harus bisa bereksplorasi dengan tulisannya. Ambil resiko untuk sebuah tulisan yang bagus, memilih kata-kata yang unik, tepat tapi inspiratif. Seperti pada kutipan.

Pagi itu Putri tampak murung. Ayahnya yang mau berangkat kerja menunda keberangkatannya. Ada apa dengan Putri?
Harusnya bisa menjadi
“Pelangi di wajah Putri tampak memudar. Ayahnya yang mau berangkat kerja menunda tekadnya. Dimana seurat senyum di wajah Putri ?

3. MASIH KURANG PIAWAI MENYIMPAN MISTERI ATAU JEBAKAN/ ENDING TERTEBAK

   Cerita dari Cerpen ini memang sangatlah unik, namun jalan ceritanya mudah sekali tertebak. Seakan tidak ada misteri atau jebakan yang mengagetkan pembaca dan membuat pembaca merasa terjebak. Penulis harus mencoba membuat jebakan dan menyimpan misteri dalam karya. Kalau berhasil maka endingnya jadi tidak terduga dan pembaca puas kalau tertipu.

4. TERBEBANI BANYAK PESAN

   Cerpen “Ayah dan Si Gadis Kecil memiliki banyak sekali pesan moral. Namun banyak dari pesan moral itu yang susah ditangkap pembaca awam atau orang menjadi malas membacanya. “Show don’t tell” merupakan kunci membuat suatu kesan dalam cerita menjadi makin menarik dan tidak terkesan “menggurui”. Jika penulis terlalu menyelipkan banyak pesan, akan membuat unsur penting dan inti pesan itu terabaikan. 
   
   Memasukkan pesan dalam sebuah cerita mempunyai prinsip sederhana. “Lebih baik sedikit asalkan fokus dan kuat daripada banyak dan justru membuat cerita menjadi lemah, dan akibatnya ditinggalkan.” Bagaimanapun mengirim satu pesan yang diterima lebih baik daripada mengirim banyak pesan tapi satu pun tidak sampai.
      




“Untuk sukses di dunia kepenulisan, menguasai teknis menulis dan teknis bercerita saja tidak cukup. Dibutuhkan juga mental dan sikap yang bisa mendukung kita sampai ke puncak.”
Tetap semangat!

CERPENNYA BISA TEMAN-TEMAN BACA DI 


CERPEN KEHIDUPAN

September 14, 2017 0 komentar
BUAT APA HIDUP?
Karya : Ria Mawaddah
“The Ugly Duck” Begitulah orang-orang memanggilku. Rambut diikat dua dengan kacamata besar dan buku-buku Novel tak penting yang sering kubawa. Yaa hal itu demi menyelamatkanku dari orang-orang yang membuliku. Setidaknya Aku bisa menyembunyikan wajah buruk dan hitamku di balik Novel tebal berbahasa asing itu.
Tak sampai disitu. Aku setiap hari harus membeli tisu di warung dekat gang kecil rumahku. Bukan untuk mengelap keringat atau menghapus air mata karena nonton korea. Tapi demi menyelamatkan gendang telingaku dari suara pertengkaran Ibu dan Ayahku di setiap harinya. Semua nama hewan dari A-Z selalu mereka ucapkan. Bahkan, makanpun selalu memakai daun pisang. Yahh, semua piring pecah karena perkelahian mereka. Entah..Apa hubungan suami istri itu selalu manis di awal dan selalu pahit di jalan? Aaah, tak pantaslah orang sepertiku berpikir tentang cinta. Karena Aku bukan pujangga yang gila karenanya.
***
“Hai Kuper..Serahin tugas loe sekarang atau gue bakalan ceburin loe ke got! Mau?” Bentak Vera.
“Aaanuu”
“Aahh,, dasar gagu..Devi..Zata..Cepat bongkar tas anak ini dan kunciin Dia di gudang. Gerti?
Aku diseret dengan paksa oleh mereka, sedangkan mereka terwa gembira melihat penderitaanku. Makhluk seperti apa mereka?
Aku hnaya bisa menangis di dalam gudang yang gelap ini. Terdengar suara tikus dan kecoa di daun telingaku yang kecil. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku terlalu lemah. Tapi Aku harus kuat. Hari ini adalah UAS pertama di kampus, Aku harus keluar dari tempat ini. Akupun berteriak meminta tolong, namun tak ada yang datang. Hingga beberapa menit kemudian. Sebongkah cahaya mulai terlihat, dengan bayangan hitam yang samar. Ku gosok kacamataku agar Aku bisa melihat bayangan tinggi itu. Astagaaaa..Itu Rey! Panggeran Kampus.
“Kenapa Kau disini?”
Suara Rey mengagetkanku..”Aanuu,,Aku..Ehmm
“Cepat keluar ngak baik disini buat gadis kaya’ kamu.”Rey lalu menyodorkan tangannya dan mengangkatku dari lantai yang penuh debu.
Ampuun..baru kali ini ada orang yang mengatakan Aku “gadis” apalagi memegang tangaku. Tiba-tiba jantungku berdegub kencang, seperti ingin meledak saat empat mataku menatap dua matanya yang sayu. Astaga..Pertanda apa ini Tuhan?
***
Mulai sejak itu, setiap hariku penuh dengan kekhawatiran. Bukan hanya tentang rasa ini. Tapi lebih besar dari itu, apa Rey tidak apa-apa setelah memegang tanganku yang kotor ini? Apa ia tidak alergi atau cacar? Sampai seminggu ini Rey tidak masuk kelas?
“Hey Bintang”Sapaan itu meledakkan pertanyaanku.
“Hhhay Rey.”
“Kau baik-baik aja kan?”
“Iaa,,Aku baik.
“Kalau begitu, ayo kita ke kantin. Kita makan. Anggap aja ini raktiran dariku sebagi seorang teman.”
“teman?”
“Iaa, kan kita sekelas. Kau tidak mau berteman denganku?
“Tidak-tidak…Aku mau..Mau-mau..
***
Sejak itu, Aku dan Rey mulai berteman baik dan Kita selalu belajar bersama setiap hari. Aku merasa hidup. Sampai akhirnya hidup itu hancur. Setelah tau Rey ternyata sudah memiliki pacar dan hanya memanfaatkanku untuk tugas akhirnya. Aku hanya bisa menangis di pojok kamar. Diiringi dengan suara keras diluar. Dan segelintir ingatan tentang pembulian yang kualami dan ancaman dari Vera yang terus membuatku mengacak-acak rabut dan membantingkan kepalaku di tembok. Biarlah hidupku hancur, kepala ini lebur. Asalkan semua penderitaan dan rasa sakit ini berakhir, TUHAN..AKU MOHON AKHIRI HIDUPKU.
BUAT APA HIDUP, jika hanya untuk bernafas. Dan hanya karena nafas itu, Aku dihina setiap hari, dihianati, dicaci maki. Buat Apa hidup jika hanya karena memiliki telinga, untuk mendengar suara pertengkaran orang tuaku, buat apa punya kaki. Jika hanya untuk berjalan dan terus diinjak-injak. Buat apa hidup? Jika hidup sama halnya dengan mati?
***
“ Ibu mau ke mana?” Tanyaku sambil menangis.
“Ibu mau pergi Bintang!Tinggallah dengan Ayahmu yang tukang main perempuan dan mabuk-mabukan itu! Ibu sudah bosan melihatnya!”Ucap ibu dengan penuh kesal sambil berjalan menuju pintu.
“Tapi Bintang ingin ikut Ibu.”Tangisku pecah
“Jangan seperti anak kecil! Kau anak tak berguna hanya akan merepotkan hidupku. Lebih baik Kau urus Ayahmu itu!”bayangan itu mulai samar-samar dan hilang. Aku hanya tak bisa menyeka air mataku yang terus keluar. Aku mengambil kunci motor dan pergi dari rumah. Aku ingin pergi sejauh-jauhnya. AKU INGIN BUNUH DIRI.
***
“Kakak mau beli kacang.”suara anak kecil mengagetkan lamunanku di lampu merah.
Aku enggan melihatnya, karena lampu hijau sudah menyala
“ Kak..mau beli pisangnya?”ucap anak laki-laki dipinggir jalan
“Aku tidak berminat!Kenapa Kau tak pergi saja!”ucapku kasar, hingga semua orang menatapku sinis.
“ Kak..kau mau beli…..
“Apa laaaaaaa.”Suaaraku terhenti melihatnya satu tangannnya yang buntung dan wajahnya yang tak terurus.
“Berapa satu dek?”Tanyaku masih sinis
“tiga lima ribu kak.”Jawabnya.
“Aku mengambil uang lima ribuan yang tersisa di kantongku. Seburuk apapun Aku hari ini, Aku tak mungkin tega melihat anak kecil itu.
Aku akhirnya melihat ke seberang jalan. Ternyata di jalan itu banyak sekali anak-anak kecil yang membawa nampan dengan kacang dan pisang rebus. Padahal usia mereka baru berusia 5-6 tahun. Siapa yang tega membuat mereka seperti ini?
“Mmm,,dek, kakak boleh nanya kan?”tanyaku pada anak perempuan berwajah lusu itu,
“Iya kak..”
“Siapa yang menyuruh adik dan teman-teman adik untuk bekerja seperti ini? Apa kalian tidak sekolah?
“Ibu Kami kak.”
“Ibu?”
“ Ia, kami membantu Ibu kami. Sebagian besar kami yatim piatu dan tidak sekolah. Kami juga tidak punya apa-apa untuk hanya membeli baju, bahkan dapat makan sehari saja sudah syukur. Kadang juga uang kami diambil preman-preman yang selalu memalak Kami. Dan sudah sebulan ini, ada lima orang teman Kami yang mati karena kelaparan dan tabrak lari kak.”
Aku tak  bisa menahan rasa haru dan air mataku. Apa yang Aku lakukan selama ini? Kenapa Aku begitu tak bersyukur? Walaupun Orang tuaku bercerai, setidaknya mereka masih hidup. Aku tidak yatim. Walaupun di sekolah Aku di bully, setidaknya Aku masih sekolah. Walaupun hidupku terasa buntu, setidaknya Aku masih tidur di kamar dan tidak di jalan.
***
Tangisku meledak di jalan. Di atas motor yang dibelikan Ayahku. Ya, Ayah..Aku ingin memeluknya ketika pulang nanti. Akan kubisikan kata”Aku mencintai Ayah.” Walau bau alkohol di mulutnya selalu tercium, setidaknya Aku tetap bisa mencium  bau keringatnya untuk menyekolahkan dan membesarkanku. Aku tak akan takut lagi pada orang-orang yang membuliku. Aku akan berdiri tegap menghadapi kehidupan ini karena memang pasti ada yang menghalagi Kita, tapi tidak dengan mimpi-mimpi Kita. Aku tak butuh laki-laki saat ini, karena Aku yakin, jika kita mendekatkan diri dengan Tuhan, jodoh yang baik pasti Akan datang. Iaa Tuhan! Tuhan telah mengajarkanku di jalan..Buat apa Aku hidup? Untuk siapa Aku hidup..Yaa, Hidup adalah untuk bermanfaat bagi mereka yang ada di jalan. Untuk mereka yang teralntar dan tidak memiliki harapan.
Yaa, Aku ingin memberikan harapan itu pada mereka. Karena mungkin orang bisa bertahan 4 minggu tanpa makan, 4 hari tanpa minum, dan 4 detik tanpa bernafas. Tapi tanpa harapan, untuk bertahan sedetik saja sangatlah mustahil. Aku akan menjadi Bintang untuk mereka. Dan Aku akan mulai menata hidup yang lebih baik mulai dari sekarang.
Selesai


CERPEN KELUARGA

September 14, 2017 1 komentar
“Malaikat Kecil Untuk Suci”
“Ukh...ukh..ukh.”suara batuk terdengar dengan keras di kamar ibu.
“Suci,tolong abilkan ibu air!”panggil ibu dari kamarnya.
“Ya bu, sebentar Suci ambilkan.”ucap Suci yang bergegas mengambil air di dapurnya yang tua nan kumuh itu.
“Ini bu airnya.”ucap Suci dengan penuh perhatian.
“Bu.Suci mohon,ibu jangan bekerja terlalu keras lagi nanti ibu tambah sakit.Biarkan Suci saja yang menggantikan pekerjaan ibu mencari batu di sugai.Lagipula air sungai sekarang ini sangat deras dan dalam, itu berbahaya untuk kesehatan dan kelamatan ibu.”
“Sudahlah Suci,sekarang tugasmu hanya belajar agar masa depan kamu tidak seperti ibu.”Ucap ibu sambil mengelus kepala Suci.
“Ya bu,Suci janji akan belajar dan kalau Suci sukses nanti Suci akan belikan ibu rumah yang megah,mobil mewah,perhiasan yang banyak dan anak naikin haji ibu.”ungkap Suci dengan penuh ambisi.
            Malam bersembunyi di balik tirai pajar,pagi datang dengan menyongsong matahari kehidupan.
            “Akmal,Akmil kalian jangan nakal di sekolah buat kakak bangga sama kalian jangan sampai bikin ulah lagi.’’pesan Suci pada kedua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
            Suci,berjalan menempuh perjalan jauh dari rumah menuju sekolahnya,tak jarang ia harus melewati sungai yang deras demi mendapatkan ilmu di sekolah.Dengan sepatu yang semakin iris menuntun langkah menuju masa depan yang kemilau.
Di sekolah,Suci sangat terkenal karena kepandaiannya berhitung.Tak heran ia mempunyai banyak teman dan sayang sangat dicintai oleh guru-gurunya di sekolah. Pagi itu, pak Wildan memberitahukan berita gembira pada Suci karena Suci telah berhasil mendapatkan beasiswa sekolah ke luar negeri dan tabungan pendidikan dari pemerintah dan itu sangat pantas di berikan pada suci karena dia adalah salah satu murid berprestasi

***
            Suci tak sabar ingin memberitahukan pada ibunya perihal beasiswa yang ia dapatkan pada ibunya di rumah.
            Tangis mengguncang hati suci dengan hebatnya,para tetangga memberitahu suci kalau ibunya sedang dirawat di rumah sakit.Suci mengayuh sepedanya dengan cepat dan dengan air mata yang mengalir semakin deras dipipinya
            “Dokter ibu sakit apa?”tanya suci sesampainya di rumah sakit tempat ibunya dirawat.
“Nak,kamu yang sabar ya.”Ibumu kehilangan satu ginjalnya dan besar kemungkinan usia ibumu tidak akan bertahan lama.
“Tidak mungkin pasti ada jalan lain dokter,pasti ada jalan lain agar penyakit ibu saya bisa disembuhkan .”
“Ya nak, memang ada jalan lain,yaitu pendonoran ginjal sebagai pengganti ginjal ibumu yang sudah tak berfungsi dan sekarang tidak ada orang donatur yang ingin mendonorkan ginjalnya untuk ibumu.”
“Dok tolong ambil ginjal saya dok, ibu saya harus tetap hidup saya mencintai dan menyanyangi ibu saya lebih dari menyanyangi diri saya sendiri.
            “Tapi nak,sebelum melakukan operasi pengangkatan ginjal ada uang yang harus dibayar dan itu nilainya tak sedikit.”ungkap dokter.
“Ya allah hamba harus bagaimana?”tanya Suci dalam hati kecilnya.
            Suci senantiasa menunggu ibunya di rumah sakit walaupun sejak kecil ibunya selalu memarahinya,memukulinya,dan mencaci makinya namun ibunya tetap menjadi nomor satu di hatinya karena Suci tahu apa yang dilakukan ibunya untuk mendidik dirinya menjadi anak yang memiliki karakter dan tidak mudah menyerah.
            Hari kedua ibunya dirawat dirumah sakit,suci memutuskan untuk membawa ibunya pulang karena suci tak mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit.Dan suci juga khawatir dengan keadaan adik-adiknya dirumah yang sudah dua hari dirawat tetangga.

***
 Di tengan malam suntuk,dan di atas sejadah cinta suci berdoa untuk kesembuhan ibunya,dan dipermudah rezkinya untuk membiayai sekolah adiknya.
Setiap malam,Suci selalu mencari dan mengais nasi-nasi di komplek yang cukup jauh dari rumahnya. Suci selalu mencari makanan sisa yang masih bisa dimakan untuk sarapan ibu dan adiknya.Suci selalu membuat makanan menjadi bisa di konsumsi dan mengenyangkan perut.
            “Bu,ibu makan dulu ya!”seru Suci dengan pelan.
“Suci,kamu mendapatkan makanan ini dari mana?inget ya,ibu tidak pernah mengajarimu untuk mencuri.”
            “Ini makanan halal bu,walaupun ini sisa makanan kemarin tapi masih lezat ko”.ucap Suci dengan sedikit kebohongan dari bibir mungilnya.
            Suci,maafin ibu ya sekarang ibu sakit-sakitan dan tak bisa berbuat banyak untuk kamu dan kedua adikmu.”ucap ibu dengan air mata yang mengalir deras dipipinya.
“Sudahlah bu,ini semua adalah cobaan dari Allah untuk hambanya.”ucap suci sambari menghapus air mata ibunya.
Akmal dan Akmil tak bisa berbuat banyak,mereka berdua hanya bisa terdiam dan melihat kakak dan ibunya yang menangis dan tak mengerti penyebab tangis ibu dan kakaknya.
“Pak,apa boleh saya mengambil semua uang beasiswa saya?”tanya Suci dengan penuh pengharapan.
“Memangnya mau kamu pakai untuk apa uang sebanyak itu?”tanya pak Wildan.
            “Uangnya untuk biaya operasi ibu saya pak.”
“Memangnya ibumu sakit apa,sehingga membutuhkan uang sebanyak itu?”

***
            “Ibu saya mengidap penyakit ginjal yang sudah semakin parah,ibu saya tidak bekerja lagi sehingga saya yang harus mencari uang untuk makan dan keperluan ibu dan adik-adik saya setiap hari.”ucap suci dengan menyelimuti rasa sedihnya.
“ Bapak ikut prihatin dengan keadaanmu sekarang,tapi uang beasiswa itu hanya bisa diambil setengahnya dan bapak tak bisa berbuat apa-apa.Maafkan bapak ya Suci!”
            “Ya pak terima kasih atas pengertian bapak sehingga dalam waktu singkat ini ibu saya bisa dioperasi.”ungkap Suci dengan perasaan bahagia.
            Sepulangnya sekolah,Suci membawa karung kecil untuk mengais botol minuman bekas.Suci melakukan semua itu karena hasil dari mencari barang bekas itu bisa digunakan untuk  uang tambahan biaya operasi ibunya.
Tak jarang Suci menemukan nasi beserta lauknya yang terbuang sia-sia walaupun nasi dan lauknya masih bisa dimakan.Tanpa ragu suci membawa semuanya pulang berharap itu semua bisa mengenjangkan perut ibu dan adik-adiknya.
Di tengan perjalanan Suci melihat anak kecil yang menjebrang di tengah truk besar di depannya.
“Awas!!”teriak suci sambil berlari menolong anak itu.
“Terima kasih kak sudah menolong rara.’’ucap gadis kecil itu.
“Dek,lain kali adik hati hati ya.
“Ya kak.”ucap adik kecil itu dan meninggalkan Suci.
            Sore itu Akmal kelaparan dan Akmil sedang demam,Suci tak tahu apa yang harus ia lakukan sampai akhirnya datang Ayu dan Toni ke rumahnya mengantarkan makanan untuk keluarga suci.
“Suci,ini makanan untuk kamu.”ucap Toni sambil memberikan rantang berisi makanan itu.
***
“Suci,di mana ibumu?”tanya Ayu.
“Ibu saya sedang sakit,sekarang beliau hanya bisa berbaring di kamar.’’
“Kami turut prihatin ya,dan semoga ibumu lekas sembuh.’’Ucap Ayu.
“Yu,bisa kau tinggalkan aku dan Suci berdua di sini.”bisik Toni.
Akhirnya Ayu meninggalkan suci dan pera berdua di teras kecil milik suci dan dengan tekad yang bulat toni mengunggkapkan isi hatinya pada suci kalau dia tidak hanya menganggap suci sebagai sahabatnya tapi ia mencintai suci lebih dari itu.
            Namun,Suci hanya bisa diam dalam dekapan jilbab putihnya.Dia tak tau apa yang harus dia katakan pada Toni,Suci hanya diam seribu bahasa dan seribu satu isyarat.
            “Suci aku mencintaimu,maafkan aku kalau aku mengunggkapkan ini terlalu cepat tapi tapi aku tak bisa terus memendam perasaan ini lebih dalam lagi.”ucap Toni.
            “Toni,sampai kapanpun aku,kamu,dan Ayu adalah sahabat aku dan selamannya akan menjadi sahabat sampai kita tua nanti.”ucap Suci dengan pelan.
            Suci selalu menutupi perasaannya pada Toni,padahal sebenarnya ia juga mencintai dan menyayangi Toni lebih dari sahabat namun, Suci merasa dia tidak bisa lebih lama menangis,tertawa,dan menghadapi semua bersama dan bisa terus menjalin rasa saling menghormati walaupun mereka berbeda agama dan harta.
Hisak tangis tak kunjung usai dari pipi putih Suci,ibunya dilarikan lagi ke rumah sakit karena harus segera melakukan operasi yang biayanya tak sedikit.
            Suci yang ditemani toni ke rumah sakit meminta kepada dokter agar ginjalnya diberikan kepada ibu suci karena tidak ada orang yang ingin mendonorkan ginjalnya kepada ibu suci.
Namun,orang tua Toni tidak rela jika ginjal anaknya diberikan kepada ibu seorang gadis gembel yang miskin.
***
Suci tak bisa melakukan apa-apa kecuali mengambil air wudhu dan berdoa untuk kesembuhan ibunya.
            “Ya allah jika memang engkau ingin mengambil ibuku,ambillah dia dengan cara yang baik.Dan jika engkau masih memberikan ibuku waktu untuk hidup jadikanlah hidupnya penuh bahagia dan tawa.Ya allah jika memang aku harus harus memberikan ginjalku pada ibuku,aku ikhalas ya allah.Dan jika memang setelah itu aku tiada jadikanlah ginjal itu melekat di dalam tubuh ibuku dan menjadi jalan agar aku selalu ada dalam dekap hangat ibuku.’’tangis Suci dalam lautan doanya.
 “Maaf dek,sebelum memulai operasi adek harus membayar uang administrasi!”ucap suster.
Suci teringat uang beasiswanya ia gunakan untuk membiayai sekolah Akmal dan Akmil adeknya yang sudah nunggak 6 bulan Suci terdiam dalam tangis di ruang tunggu berharap ada malaikat kecil yang menolongnya.
            “Kak kenapa menangis?”tanya anak kecil sambil memukul pundak Suci dengan pelan.
“Adek....!kok bisa di sini bukannya kamu anak kecil yang kemarin di tabrak truk itu kan?”tanya Suci dengan heran.
            “Ya kak,Rara lagi nunggu papa yang sedang memeriksa pasien.”
Ternyata anak kecil itu adalah anak pak Rizal,dokter yang memeriksa ibu Suci.
“Pa...pa...itu kakak yang menolong Rara kemarin ketika Rara mau di tabrak truk itu,rara tidak tau apa yang terjadi kalau kakak itu tidak ada.”ucap anak kecil itu sambil menarik baju papanya.
            “Nak Suci,terima kasih telah menolong anak saya Rara.Dan sebagai balasannya kamu tidak perlu membayar uang untuk administrasi ibumu.”ucap doker Rizal.
***
            Suci yang mendengar perkataan dokter Rizal itu langsung sujud syukur sebagai tanda terima kasihnya pada Allah swt  karena telah mengirimkan malaikat kecil untuk Suci,dan Suci tidak tahu apa yang akan terjadi jika anak itu tidak ada.
            Tepat pukul 9 malam,operasi dilakukan,namun yang menangani operasi ibu Suci bukan dokter Rizal karena dokter Rizal sendiri sedang melakukan operasi pengangkatan hati di tempat lain.
            Akhirnya operasi telah selesai dilakukan,Suci dan ibunya diizinkan pulang malam itu juga karena kondisi ibu Suci sudah semakin membaik.
            Ketika Suci sampai di lantai bawah,ia mendengar tangisan dokter Rizal Suci langsung menuju pintu ruangan itu dan terlihat malaikat maut mengucapkan selamat tinggal pada Rara si malaikat kecil.Gadis kecil itu terbaring pucat dengan cahaya putih di wajahnya,senyum yang begitu hangat ,dan nyawa telah pergi meninggalkan tubuh Rara yang begitu mungil. Suci tak bisa menahan tangisnya,tanpa izin ia masuk dan memeluk malaikat kecil itu.
Suci pulang dengan ibunya dengan membawa irisan hatinya yang begitu perih ditinggal rara yang begitu baik padanya.
Suci,kembali ke sekolah untuk melanjutkan cita-citanya dengan teman dan sahabat yang begitu mencintainya.Teman-temannya sangat senang melihat Suci telah kembali,karena ingin belajar dan bertanya pada si jenius Suci.
                                                                        ****
            Awan nampak seperti tak bersahabat dengan langit,bunga-bunga berguguran bagaikan bunga sakura di jepang.angin tornado nampaknya akan datang dengan petir hebat yang menggetarkan dunia.
            Suci tetap saja mengais barang bekas di tempat pembuangan sampah di dekat sekolahnya dengan karung kecil di tangannya.Tanpa menghiraukan hujan yang begitu deras ia tetap mengais rezkinya dibalik tempat sampah itu.Sampai akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri namun bersyukur Toni dan Ayu melihat Suci dan langsung membawa Suci ke dalam mobil dan mengantarkannya pulang.
            Rasa sakit yang diderita suci pasca operasi begitu terasa ditambah hujan yang melumpuhkan semua badan suci sehingga kaku untuk digerakkan.
***
            “Bu...tolong jaga Akmal dan Akmil,jadikan mereka anak-anak yang memiliki karakter dan cerdas seperti ibu mendidik Suci dulu.Toni Ayu terima kasih telah menjadi sahabat yang selalu ada untuk aku,menjadi malaikat disaat aku membutuhkan bantuan,menjadi nabi saat aku membutuhkan pencerahan,dan menjadi pelangi yang memberikan warna dan menghiasi hidupku.Akmal ,Akmil jaga ibu dan jangan pernah durhaka pada ibu.”pesan  Suci dalam detik-detik terakhir hidupnya.
            Dengan mengucap dua kalimat syahadat,Suci menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan segelintir irisan hatinya,sahabatnya, ibunya,dan adik-adiknya.Mereka tak bisa menahan tangis melihat kepergian suci yang begitu cepat.
Kini,Suci telah pergi dari negeri yang penuh kontropersi ke negeri yang penuh kedamaian dan kini Suci telah pergi dan berada di surga bersama ayah dan malaikat kecilnya.Setelah kepergian Suci,ibu selalu kesepian dan selalu teringat anaknya yang berhati Suci itu.
Ketika ibu membersihkan kamar Suci,ia melihat ada kotak kecil yang begitu indah berbungkuskan kado berisi ucapan”selamat hari ibu”walaupun kado itu tertupi debu yang begitu tebal  namun kado itu nampak masih indah.Ketika ibu membukannya ternyata kado itu berisi cincin yang begitu indah dengan surat di dalamnya.
            Dengan pelan ibu membaca surat itu.
“untuk ibuku tersayang.”
Mungkin setelah ibu membaca surat ini,suci telah tiada di dunia ini.Kado ini untuk ibu dan cincin yang ada di dalamnya Suci dapatkan dari hasil mencari barang bekas.Maafkan Suci tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih berharga untuk ibu.Suci sengaja membelikan cincin yang percis sama seperti cincin yang ibu jual dulu untuk biaya sekolah Suci.Semoga ibu selalu menjagannya.
***
 Ibu, Suci sekarang ada di tubuh ibu,maafkan jika Suci tidak memberi tahu kalau ginjal yang ada dalam tubuh Suci sekarang adalah ginjal milik Suci.
 Suci memberikan ginjal Suci,karena Suci yakin ibu bisa menjagannya dan degan ginjal itu ibu bisa terus hidup dan melihat indahnya dunia dan menjaga akmal dan akmil sampai mereka dewasa nanti.Semoga setiap lembaran usang dan irisan-irisan hati dapat selalu kita selesaikan dengan bertahan dan bertuhan.”salam manis anakmu sayang.
Air mata terus menetes di pipi ibu dia akan selau mengingat anak yang selalu ia marahi sewaktu kecil dan dia didik degan keras dan penuh tanggung jawab.